Snorkeling di Pulau Lengkuas

Bersama Imaji Tour, kami akan mempersembahkan anda liburan yang menyenangkan dan tidak terlupakan di Pulau Belitung.

Explore Menara Pulau Lengkuas

Imaji Tour tidak pernah main-main dalam mempersembahkan perjalanan wisata untuk anda, kami tetap akan memberikan servis yang maksimal dengan harga yang terjangkau.

Menikmati indahnya pantai Pulau Lengkuas

Banyak sekali pengalaman yang akan anda dapatkan bersama kami Wisata Belitung Imaji Tour, pesanlah liburan anda sekarang, kami akan menyediakan yang terbaik.

Berfoto bersama di Pulau Pasir

Wisata Belitung Imaji Tour sudah memberikan berbagai macam paket liburan kepada beragam rombongan outing. Mulai dari paket yang sederhana, hingga paket dengan pendekatan kultur tradisional.

Perjalanan Hoping Island dari Pulau ke Pulau

Wisata Belitung Imaji Tour selalu mempersiapkan segala macam fasilitas yang anda perlukan untuk menikmati indahnya perjalanan wisata pulau Belitung.

Tampilkan postingan dengan label kisah kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Juli 2014

Laskar Pelangi Behind the scene

Catatan Al-Imaji

Behind the scene Laskar Pelangi

Cerita dibalik perjalanan Casting
by : Julian Aditya, Talent Co. Laskar Pelangi Film

    Sebelum saya menceritakan pengalaman ini, pertama-tama saya harus mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan dari Miles Film dan Mizan Production karena telah menerima saya bergabung dan bekerja sama di Laskar Pelangi film sebagai salah satu Talent Coordinator. Ini adalah pengalaman yang sangat membanggakan, mengingat film ini adalah salah satu film fenomenal dan boleh dikatakan sebagai salah satu dari yang terlaris di Indonesia.

    Sahabat Al-Imaji ( mari kita bersatu dalam imajinasi ), Laskar Pelangi film yang diproduseri Mira Lesmana, disutradari Riri Riza, dan diangkat dari novel karya Andrea Hirata memang banyak membuat kehebohan disana-sini. Salah satu kekuatan film tersebut adalah para pemainnya, yang menggabungkan kekuatan akting para aktor/aktris kawakan bersama pemeran anak-anak Laskar Pelangi yang notabene tidak pernah memasuki dunia perfilman sama sekali. Anak-anak itu memang masih hijau, tapi sudahberhasil menyihir jutaan penikmat film Indonesia. Mungkin ada yang bertanya, apakah mencari talent lokal dikala itu, mudah? Jawabannya tidak! Berikut ini, saya memaparkan sedikit pengalaman yang saya dapat sewaktu membantu Miles Film dan Mizan Production sejak awal Maret 2008 yang lalu dalam catatan behind the scene Laskar Pelangi ini.

1. MEMBUKA CASTING SAMA DENGAN MENGAJARKAN CARANYA SEKALIGUS.
   Behind the scene Laskar Pelangi Pictures : Di tepian jalan

      Ini adalah tantangan pertama yang saya dapat. Lokasi Shooting Laskar Pelangi Film bertempat di lokasi aslinya, Pulau Belitung sekaligus kampung saya sendiri. Bagi yang tinggal di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya tentu sudah banyak yang tahu bagaimana proses sebuah casting dilaksanakan. Apalagi yang sudah masuk talent agency atau yang punya mimpi untuk menjadi artis yang wajahnya selalu terpampang di televisi, bioskop, atau banner sebuah produk. Casting di Belitung, adalah sebuah hal yang sangat langka sekaligus merepotkan. Bayangkan apabila ada 100 orang yang datang, 100 orang itu harus kita ajarkan bagaimana cara melihat dan membaca skrip, gambaran peran dari apa yang ia baca disitu, termasuk bagaimana dan apa yang harus ia lakukan apabila berhadapan dengan para penilai nanti. Kalau yang datang anak-anak, kadang-kadang kita harus menjelaskan cara casting ini di depan orang tuanya... cabe deh...

    Ada pengalaman lucu yang pernah didapat dari proses ini. Suatu ketika yang datang casting itu bapak-bapak dengan usia 40-an. Ia sangat bernafsu sekali untuk tampil di film setidak-tidaknya jadi pemeran pembantu yang wajahnya kelihatan (untung ada skrip yang dibuat khusus untuk peran dengan karakter tersebut walaupun akhirnya dihapus dari sutradara). Setelah panjang lebar saya menjelaskan, akhirnya ia bertanya... bagaimana cara latihan membaca skrip. Saya jawab : "Bayangkan di depan ada lawan bicara anda yang ikut main film nanti". Kemudian saya meninggalkannya di ruang tunggu dengan harapan "mudah-mudahan ia mengerti". Akhirnya, setelah beberapa saat berlalu. Saya kembali keruang tunggu, dan ternyata mendapati ruangan yang sudah kosong dimana tadinya dipenuhi oleh para peserta casting! Saya panik karena mereka menghilang, saya takut terjadi sesuatu akibat omongan saya tadi. Akhirnya setelah saya cari dengan tergopoh-gopoh, untunglah ternyata mereka tidak pulang  kembali ke rumah masing-masing. Mereka semuanya ada dibelakang ruang tunggu dan sedang sibuk berbicara sendiri sesuai instruksi yang saya katakan ke bapak tadi! (Padahal anjuran saya bukan untuk mereka semua loh.. ) Sang bapak itulah yang mengajak mereka semua, dan ia pun saya lihat sangat berusaha menjiwai perannya semaksimal mungkin dengan berbicara sendiri sambil menunjuk-nunjuk tembok tebal ruang tunggu casting! Yaelah pak, kok pada ngajak gila orang sekampung seeeeh...???

2. BENAR-BENAR HUNTING, GARA-GARA BANYAK YANG TIDAK PERCAYA.
      Behind the scene Laskar Pelangi Pictures :Shooting di Tanjung tinggi 

    Memang pada saat itu proses casting Laskar Pelangi Film tidak dipublikasikan oleh media lokal baik cetak maupun elektronik. Ini dikarenakan sang asisten sutradara tidak menginginkannya karena takut pusing dengan tawaran-titipan. Singkatnya, proses casting dilakukan dengan cara mengajak orang yang ditemui. Inilah tantangannya,masyarakat Belitung dikala itu benar-benar "blank" dan skeptis. Tidak jarang saya harus memberi penjelasan "bahwa ini benar" kepada orang yang cerewet dan menuduh saya sebagai "tukang isu". Adapun saat proses hunting disekolahan untuk mencari para calon pemeran Laskar Pelangi film, saya selalu masuk ruang kepala sekolah dengan waktu yang cukup lama untuk menjabarkan benar-tidaknya persoalan ini. Bahkan ada guru yang bertanya asal usul saya, siapa orang tua, dimana rumahnya, sebelumnya bekerja sebagai apa, pulang merantau darimana, wah... cabe lagi deh!

    Kejadian yang paling edan dari hunting ini ada di SDN 44 Perawas (Kab. Belitung) yang menyumbang pemeran A-Kiong ( Suhendri, red ). Saat itu saya tiba disana sudah pukul setengah 12 siang. Saya datang terlambat, karena waktu jam sekolah sudah hampir habis dan terlalu banyak sekolah yang harus didatangi kalau dilanjutkan besok. Akhirnya saya memutuskan, untuk hunting sambil melihat mereka pulang dari sekolah itu.
    "Treeeeet!!!! Treeeet! Treeeeet!"
    Suara bel pun muncul, anak-anak SD 44 keluar. Saya menunggu untuk melihat penampakan mereka sambil duduk diatas motor dengan jaket kulit, celana jeans, dan rokok kretek murahan dimulut. Masing-masing dari mereka saya lihat dengan sangat detil, setelah 10 menit barulah anak dengan spesifikasi yang saya inginkan muncul! Anak itu adalah Suhendri ( A-Kiong ) yang pulang berjalan kaki kerumah, tidak ingin dia berlalu... saya pun langsung turun dari motor dan berjalan kearahnya. Disinilah yang muncul petaka! Melihat saya orang asing dan tampak antusias sekali, Suhendri malah kaget. Sialnya, dia mengira saya penculik! Ia pun lari, mau tak mau saya mengejar! ( Saking antusiasnya saya waktu itu saya lupa kalau besok kan bisa kembali lagi? ya toh?? ). Akhirnya tak berapa lama pun, terpaksa Suhendri saya tangkap seperti seperti seorang kekasih yang lari dari pacarnya. Anak-anak SDN 44 yang lain langsung segera mengerubungi saya bersama orang tua mereka, kemudian ada pak Guru yang menghampiri dengan wajah sangar dan nada tinggi! Waduh, saya terlihat seperti seorang buronan kala itu! perlu waktu lama untuk meyakinkan mereka dan Suhendri agar mempercayai apa yang saya katakan. Ah,buah perbuatan yang terlalu terburu-buru... ingin memberi kejutan, eh malah saya yang dikejutkan! Jiaaah!

3. SUDAH MENCARI PEMERAN UTAMA SUSAH, FIGURAN MALAH LEBIH SUSAH LAGI!
      Behind the scene Laskar Pelangi Pictures : Para figuran film (wanita)

    Setelah proses yang saya lakukan selama dua bulan sudah mendapatkan progress yang lumayan, semua anak-anak pemeran laskar pelangi sudah mempunyai calon yang pas dari dua tantangan besar tadi. Tantangan selanjutnya yang cukup melelahkan adalah bagaimana caranya mengajak masyarakat dengan jumlah yang besar untuk menjadi pemeran figuran. Sekitar satu bulan Shoot di daerah Gantong ( Belitung Timur ), jumlah figuran yang harus saya dapatkan adalah minimal 250 orang! Jumlah ini memang kecil kalau shooting didaerah lain yang sudah kenal bagaimana proses sebuah film apalagi ada agency. Kalau di Belitung, ini merupakan sebuah ujian. Berikut rinciannya :
* Apabila saya mencari pemeran figuran dengan karakter para pekerja dan penambang timah, bapak-bapak disana saat itu bertanya : "Aku dapat berape untuk syuting dari subo sampai sure ari? (Saya dapat uang berapa untuk shooting dari subuh ke sore hari?)". Saya jawab apa adanya : "50.000 Rupiah pak!". Lantas mereka tertawa dan memberi tanggapan seperti ini : "Hahaha, aku kalok nambang tima setenga ari la dapat duit sepulo kali lipat dari nok diberik kao! (Hahaha, saya kalau nambang timah beneran, setengah hari bisa dapet uang sepuluh kali lipat dibandingkan yang dikasih dari kamu!)".
* Jika saya membutuhkan rombongan ibu-ibu untuk mengisi film ini, dengan tampang yang serius ibu-ibu itu sering bertanya : "Bang, muke kamek ne kan keliatan benar ke di tipi kini!?! (Bang, wajah kita ini apa benar nanti bisa dilihat di tv??)". Saya jelaskan kalau ini bukan shooting sinetron melainkan layar lebar, dan posisi mereka bukanlah sebagai pemeran utama yang harus muncul wajahnya sesering mungkin. Lalu inilah jawaban mereka :"Yaaa, ndak seru la mun kamek dak masok tipi! dak nak la eh... ( Yaaa, nggak seru dong kalo kita ini nggak masuk tv, nggak mau ah!)". Dibilang nanti akan masuk bioskop, di Belitung nggak bisa nonton bioskop. Disuruh agar nonton VCD/DVD-nya nanti, bakalan nggak ada yang original... wah, kejebak pembajak dong gue!?!
      Behind the scene Laskar Pelangi Pictures : para figuran film (laki-laki)

     Itu hanyalah sekelumit tanggapan dari mereka, intinya... apabila kita mengajak dengan posisi sebagai kru film, dijamin 80% tidak ada yang mau! Jangankan saya, yang mengepalai divisi saya aja bingung. Akhirnya saya memutuskan untuk membujuk mereka lewat cara pemanfaatan kedekatan emosional ala agen spionase. Konsekuensinya, jauh-jauh hari sebelum shooting dimulai saya harus pindah domisili dari Tanjungpandan (Kab. Belitung) ke Gantong! Setelah itu barulah saya nongkrong sebagai anak muda yang gaul, saya ikut pengajian di mesjid bersama rombongan bapak-bapak ibu-ibu majelis, saya sering menyambangi lokasi pertanian dan transmigrasi sebagai orang yang ingin belajar bercocok tanam, saya duduk menghabiskan waktu di warung kopi dan akrab dengan bapak-bapak penambang, tidur di kantor camat karena ingin dekat dengan pegawainya, akrab dengan mantan ketua preman pasar, mantan pendekar,  pokoknya tiada hari tanpa sosialisasi dan saya tampak bagaikan seorang pengangguran kelas berat yang sedang cari kerja disana-sini!

    Hehehe, yah... itu adalah sedikit pengalaman yang saya dapatkan dan sebenarnya masih banyak lagi... Untung aja percaya dengan istilah "Dimana ada kemauan, disitu ada jalan!". Walaupun rada susah, meskipun agak merepotkan... proses casting selesai dengan lancar begitu juga dengan shootingnya! Thanks 4 all crew yang membantu, thanks for talent, dan terima kasih juga kepada sahabat Al-Imaji yang telah membaca tulisan ini.



Cat : Sekarang anak-anak kecil itu (Zulfani Pasa,Veris Yamarno,Ferdian,Suhendri,Yogi Nugraha,Suharyadi Syah Ramadhan,Muhammad Syukur,Jeffri "Ayep" Yanuar,Febriansyah,Dewi Ratih, Marcella,dan Levina) sudah pernah menikmati hidup sebagai artis, para pemeran lokal sebagai supporting/extras talent sedikit mempunyai kebanggaan dalam berpartisipasi di film Laskar Pelangi. Begitu juga dengan saya...
Thanks Miles Film, Thanks Mizan Production, Thanks All the readers. Success!

Julian Aditya 
Behind the scene Laskar Pelangi film
(Adit Linkkar Al-Imaji)

Selasa, 11 Maret 2014

MAYAT DI KERETA API ODONG-ODONG

MAYAT DI KERETA API ODONG-ODONG
DEAD BODY IN THE ECONOMY CLASS TRAIN

Tahun 2007, adalah tahun yang benar-benar gila! Aku mengalami banyak sekali pengalaman yang tidak menyenangkan dalam petualangan hidup. Salah satunya, terjadi pada saat perjalanan pulang dari Cicalengka menuju Cikampek. Karena saat itu aku tidak punya uang, naik kereta api dengan model "odong-odong" dalam kelas ekonomi adalah jalan yang paling bijak. Itu juga tidak membayar, karena harus melakukan adegan kucing-kucingan bersama kondektur yang kadang sadis.
In 2007, is the craziest year i had! A lot of unpleasant experiences just went into my life. One of them occurred on the way back from Cicalengka towards the small city, Cikampek. At that time, i did not have the money, so i must take the train  in economy class (called "Odong-Odong") for my wisest path. It also does not pay, because i have to do play hide and seek game scenes, with the sadistic conductor. hehehe...

Tidak bisa dilupakan kala itu. Setelah berjam-jam menunggu kedatangan kereta tersebut dari stasiun Kiara Condong (Bandung) yang banyak bancinya, aku dan temanku yang bernama Subhan pun akhirnya ikut naik kereta api yang jalan pada malam hari itu. Suasananya sesak, berdempet-dempetan, bau, dan panas sekali. Aku yang sudah tidak punya pilihan, tentu sudah mempunyai lokasi favorit. WC gerbong, adalah pilihan utamaku. Rata-rata keadaan WC dari setiap kereta argo ekonomi memang sudah tidak bisa dipakai. Tidak ada air, tapi cukup untuk menyembunyikan manusia yang mencoba kabur dari kondektur dengan keuangan yang sangat miris.
This is an unforgetable story! After hours of waiting for the arrival of the train in Kiara Condong Station (Bandung) - there's the shemale hookers everywhere.  Me and my friend named Subhan finally ride at night. The atmosphere is claustrophobic, huddle, odor, and very hot like hell! I don't have a choice, besides already have a favorite location. The Toilet is can not be used because no more water in there, but enough to hide a man who tried to escape from the conductor in the train.

Akhirya, di ruangan kecil yang gelap (karena lampunya sudah putus) itulah pilihanku. Jangan tanya lagi baunya, keadaan di dalam itu tidak lebih baik dari sebuah peti mati, bahkan mungkin lebih parah lagi! Bau air kencing manusia, kadang-kadang kecoa ataupun serangga menjijikkan lainnya pun ikut merayap di kaki. Disitulah aku mendapatkan pengalaman ini. Karena setelah hampir setengah jam aku menikmati suasana yang bisa membuat muntah itu, kakiku tersenggol dengan sesuatu yang tersenyembunyi di dalamnya. Rasa penasaran pun muncul, aku menyalakan senter handphone untuk memeriksa...
Finally, in the small and dark toilet (the lights is totally broke), that's where i am. Don't ask the smell, the condition is worse than you stuck in the casket. You can smell the urine from the human pissed, sometimes cocroach and another grossy bugs is creeping over youre feet! In the place like that, i added my experiences! Because after nearly half an hour i enjoyed the atmosphere, my feet is bumped with something in it. I was curious, and light my cell phone flashlight to checked out...
  
Nah! Alangkah kagetnya perasaan, dan rasa takut mulai merayap di hati ini. Bagaimana tidak? Ternyata di ruangan gelap nan sempit WC gerbong itu senter handphoneku ternyata menyorot dan menyinari sebuah wajah manusia! Wajah seorang ibu berjilbab yang melotot kaku, pucat, ada sedikit percikan darah di bibirnya yang pasi! Berteriaklah aku di dalam kereta itu, tapi siapa yang akan mendengarkan? Suara sudah terlalu bising diluar, dan orang-orang yang ada disana juga tidak akan ambil peduli. Setelah aku cek denyut urat nadinya yang telah jongkok dengan sangat kaku itu... aku sadar, bahwa aku telah ditemani sebuah mayat di dalam WC gerbong ini! 
Well! What a feeling of shock and fear began to creep in my heart. How not? In the dark and cramped toilet, my cell phone flashlight turns out a highlight and illuminate a human face! There was a woman's face, her eyes bulging stiff, pale, there was a little blood on his lips. I screamed on the train, but who will listen? Sound is too noisy outside, and there are people who will not care. After I check the pulse of her veins,  Ii realized, that I had the company of a corpse in the toilet train!

Perasaan bingung, rasa takut berkecamuk seolah-olah ingin memakan hidup-hidup diri ini! Aku sudah tidak tahu sejauh mana kereta berjalan, tapi yang jelas... perlu lebih dari 2 jam lagi untuk mencapai stasiun Purwakarta, belum Cikampek! Apakah aku harus terus-terusan berdiam diri di dalam WC gerbong, tidak bertemu dengan masinis tapi ditemani oleh mayat seorang ibu berjilbab yang telah terjongkok kaku entah itu habis dibunuh atau sebab yang lain??? Aku coba menggoyang-goyangkan tubuh tersebut, mencari harapan kalau-kalau dia kembali dari kematiannya dan menyapa diri ini. Tapi percuma, ibu tersebut telah tiada... dan akulah yang menjadi saksi. Ada dua pilihan sekarang, aku keluar... untuk mengabarkan kepada yang lain dan ikut terlibat dalam persoalan yang sama sekali belum jelas aku ketahui, atau... diam saja di tempat, keluar dari dalam gerbong WC dan siap-siap mental untuk bertengkar dengan kondektur?
Feelings of confusion, fear raged as if to eat this self alive! I had no idea how far the train was rans, but clearly ... need more than 2 hours to reach the station Purwakarta, not yet Cikampek! Do I have to keep silent in the toilet train, did not meet with the conductor but was accompanied by a veiled corpse of a mother who has been killed or some other reasons??? I tried shaking the body, look for hope in case he came back from the death and greet my selves. But the mother surely was gone ... and i became a witness. There are two options now, I'm out ... to preach to others and get involved in the issue that i don't know, or ... silent in place, out of the toilet train and mentally ready to fight with conductor?

Tentu saja kemungkinan yang pertama tidak akan aku ambil. Aku tidak punya siapa-siapa di tanah Pasundan, hanya temanku Subhan-lah yang selalu menemani. Terus terang saat ini, aku sedang mencoba kabur dari kehidupan yang sudah ada tetapi jauh lebih layak dari yang sekarang kuhadapi. Sudah 2 bulan aku memulai petualangan dengan berbekal sebuah tas ransel butut yang berisi sepasang baju, celana, dalaman, untuk berganti. Tidak lucu, kalau menjadi pahlawan kesiangan... kemudian berakhir di kantor polisi, dan dijadikan saksi, atau malah tersangka awal dari kejadian ini. Jadi, akhirnya aku memilih untuk diam saja. Tidak berbicara kepada siapapun (termasuk Subhan) dan keluar dari WC gerbong seolah-olah tiada satu hal pun yang terjadi. 
Of course the first possibility that I will not take. I do not have anyone on the Pasundan, Subhan was the one who always accompany. Frankly this moment, I'm trying to escape from my existing life which much more feasible than the current time. It's been 2 months I started my adventure. Armed with a battered backpack that contains a pair of shirts, pants, for a change. Not funny, if i want becomes hero ... then end up at the police station, as witnesses, or even earlier suspects with this incident. So, finally I chose to not say anything. Do not talk to anyone (including Subhan) and out of the toilet train, pretend to nothing happened. 

Kehidupan yang kujalani saat itu sangat keras, kawan. Sesosok mayat manusia yang sudah tidak bernyawa lagi itu pun tidak bisa menjadi tolak ukur bahwa itulah hal yang paling luar biasa kualami. Aku mencoba tidak peduli, dan tidak mau mengingat lagi kejadian tersebut. Tetapi kadang-kadang, hingga saat detik aku menulis, ada saja terlintas penampakan sosok ibu yang naas itu. Sehingga, aku ingin tuliskan kembali pengalaman yang tragis ini... sekaligus meminta maaf kepada sang ibu, yang jelas mudah-mudahan mayatnya ditemukan orang lain dan diurus dengan lebih layak sesudah diriku. Amin.... 
The life that i lead was so hard, man! Human corpse it could not be a benchmark that is the most incredible thing I've had. I tried not to care, and do not want to recall the incident. But sometimes, until I wrote this, there just comes appearances figure of fateful mother. So, I want to rewrite this tragic experience ... at the same time, i want to apologize for that mam, which hopefully  his body was found and taken care by someone else, who's more worthy after myself. Amin ....

Note : sorry if my english mess. I just try to share stories and experiences with you. with the limitations I have. :-)